Kisah Cinta Alin bin Abi Thalib dengan Siti Fatimah




Seorang ilmuwan pada zaman dulu Aristoteles mengatakan bahwa manusia adlah ZOON POLITICON. Bahwa manusia adalah makhluk social yang membutuhkan orng lain utk berinteraksi dan berkomunikasi dlm hidup dan kehidupan ini. Setiap orang pst butuh org lain, contoh : kita butuh jengkol tapi kita ndk bisa manjat pohonnya, maka kita akan minta bantuan orang lain untuk mengambilkanya. Nah, begitu besar rasa ketergantungan kita terhadap orang lain.
Namun dalam pergaulan kita tersebut, tentu pernah kita salah kata dan salah perbuatan sehingga tanpa sadar ataupun kita sengaja telah menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. Bahkan bisa saja hal itu menimbulkan dendam jika kita tak bisa mengendalikan diri kita. Hal ini tentu merusak terhadap hubungan silaturrahmi kita dengan orang tersebut. Oleh karena itu IMAM AL-GHAZALI pernah berpesan bahwa ada 2 cara menjaga hubungan silaturrahmi itu :
LUPAKANLAHSemoga kita bisa menerapkan pesan yang disampaikan imam al-ghazali tersebut, sehingga kita bisa menjaga hubungan silaturrahmi kita dengan baik. Amin..
“Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”
Salah satu bentuk ibadah kita adalah Shalat fardhu atau shalat wajib 5 waktu dalam sehari semalam. Karena shalat ini merupakan kewajiban, maka aka nada ganjaran bagi mereka yang meninggalkannya. Berikut akan kita jelaskan :
1. SHALAT SUBUH
Ø Shalat subuh Allah tetapkan menjadi 2 rakaat saja karena sangat berat untuk dilaksanakan. Kenapa ? karena banyak manusia yang tidak bangun ketika waktu subuh datang sehingga sangat berat untuk melaksanakannya. Oleh karena itu Allah member keringanan kepada kita untuk meelaksanakannya 2 rakaat saja
Ø Balasan bagi mereka yang meninggalkan shalat subuh satu kali sama dengan berada di NERAKA 60 tahun lamanya. Namun waktu di neraka tidak sama dengan di dunia. 1 tahun di neraka dikatakan dlm sejumlah buku sama dengan 1000 tahun di dunia. Berarti 60 x 6000 tahun
2. SHALAT ZUHUR
Ø Waktu Shalat zuhur datang saat kita sudah beraktifitas dan melaksanakan kegiatan kita pada waktu siang hari atau adalah waktu istirahat kita, sehingga Allah memberi kita zuhur 4 rakaat.
Ø Balasan bagi mereka yang meninggalkan shalat zuhur satu kali sama dengan dosa membunuh 1000 orang umat muslim
3. SHALAT ASHAR
Ø Shalat Ashar 4 rakaat karena pada waktu itu kita juga masih beraktifitas dan beristirahat sehingga tiada halangan bagi kita untuk melaksanakannya
Ø Balasan bagi yang meninggalkan Shalat Ashar satu kali sama dengan dosa meruntuhkan Ka’bah
4. SHALAT MAGHRIB
Ø Shalat Maghrib Allah jatahkan 3 rakaat karena pada saat itu hamper seluruh kita dalam keadaan santai
Ø Balasan bagi yang meninggalkannya sama dengan berzina dengan orang tua. Jika yang meninggalkannya seorang laki-laki, maka dia seperti berzina dengan ibunya, begitu juga sebaliknya.
5. SHALAT ISYA
Ø Allah jatahkan shalat isya itu 4 rakaat karena pada waktu isya kita sudah beristirahat dan waktunya sangat panjang
Ø Balasan bagi yang meninggalkannya satu kali, maka Allah SWT tidak akan ridho terhadap hamba-Nya itu untuk tinggal di Bumi dan Langitnya serta makan dan minum dari nikmatnya
Marilah kita bertaubat dan mohon ampunan kepada Allah SWT
Banjir Nuh, yang disebutkan dalam hampir seluruh kebudayaan, adalah satu contoh yang paling banyak diuraikan dalam Al Qur-an. Keengganan umat Nabi Nuh terhadap nasihat dan peringat-annya, reaksi mereka terhadap risalah Nabi Nuh, serta peristiwa banjir selengkapnya, semua diceritakan secara rinci dalam banyak ayat Al Quran.
Nabi Nuh diutus untuk mengingatkan umatnya yang telah mening-galkan ayat-ayat Allah dan menyekutukan-Nya, dan mengajak mereka menyembah Allah semata dan menghentikan pembangkangan mereka. Meskipun Nabi Nuh telah berkali-kali menasihati umatnya agar menaati perintah Allah serta mengingatkan akan kemurkaan Allah, mereka masih saja menolak dan terus menyekutukan Allah. Dalam Surat Al Mu'mi-nuun, perkembangan peristiwa itu dilukiskan sebagai berikut:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya men-jawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.
Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. Nuh berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendusta-kanku.” (QS. Al Mu’minuun, 23: 23-26) !
Sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut, pemuka ma-syarakat di sekitar Nabi Nuh menuduh Nabi Nuh berusaha meraih ke-unggulan atas kaumnya, yakni, mencari keuntungan pribadi seperti status, kekuasaan, dan kekayaan, dan mereka mencoba menunjuk dia sebagai “kesurupan”, dan mereka memutuskan untuk membiarkannya sementara waktu, dan menekannya.
Karena itulah, Allah menyampaikan pada Nuh bahwa mereka yang menolak kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan ditenggelamkan, dan mereka yang beriman akan diselamatkan.
Maka, pada saat hukuman datang, air dan aliran yang sangat deras muncul dan menyembur dari dalam tanah, dibarengi dengan hujan yang sangat lebat, menyebabkan banjir dahsyat. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk “menaikkan ke atas perahu pasangan-pasangan dari setiap jenis, jantan dan betina, serta keluarganya, kecuali mereka yang menen-tang apa yang telah dinyatakan wahyu”. Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan, termasuk “anak laki-laki” Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan berlindung ke gunung terdekat. Semuanya tenggelam kecuali yang naik ke perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir, dan “kejadian telah berakhir”, perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan Al Quran kepada kita.
Studi arkeologis, geologis, dan historis menunjukkan bahwa peris-tiwa tersebut terjadi sebagaimana diceritakan Al Quran. Banjir tersebut juga digambarkan secara hampir serupa pada banyak catatan peradaban-peradaban masa lalu dan dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama tempat beragam, dan “semua yang terjadi pada manusia yang salah” disajikan untuk manusia saat ini sebagai peringatan.
Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama dan Baru, kisah tentang banjir Nuh ini diungkap secara serupa dalam catatan-catatan sejarah Sumeria dan Asiria-Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam epik Shatapatha Brahmana dan Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda Wales di Kepulauan Inggris, dalam Nordic Edda, dalam legenda-legenda Lithuania, dan bahkan dalam cerita-cerita yang berakar dari Cina.
Bagaimana mungkin cerita-cerita yang begitu rinci dan relevan dapat dikumpulkan dari berbagai daratan yang jauh secara geografis dan budaya, saling berjauhan sesamanya, juga dengan wilayah banjir?
Jawabannya jelas: Fakta bahwa peristiwa yang sama dituturkan dalam berbagai catatan sejarah berbagai bangsa tersebut, yang kecil kemungkinan saling berkomunikasi, merupakan bukti nyata bahwa mereka menerima pengetahuan dari sebuah sumber ilahiah. Tampak bahwa Banjir Nuh, salah satu kejadian terbesar dan paling destruktif dalam sejarah, telah diwartakan oleh banyak nabi yang diutus ke pelbagai peradaban dengan tujuan untuk memberi contoh. Dengan demikian, berita tentang banjir Nuh tersebar ke berbagai kebudayaan.
Namun, walau banyak diriwayatkan dalam berbagai budaya dan sumber ajaran berbagai agama, cerita tentang banjir dan Nabi Nuh itu telah banyak berubah dan membias dari kisah aslinya karena kepalsuan sumber, kekeliruan penyampaian, atau bahkan mungkin karena tujuan yang tidak benar. Riset menunjukkan bahwa di antara sekian banyak riwayat yang menuturkan peristiwa tersebut dengan berbagai perbedaan, penggambaran paling konsisten hanya terdapat dalam Al Quran.
sumber : HARUN YAHYA



