KBC Blogger Bertuah Logo Blogger Indonesia

Negara Untuk Sebuah Peradaban

Dari Khandaq ke Damaskus

oleh M Anis Matta


Kajian Utama kali ini mengupas fase ekspansif perjuangan Nabi Muhammad Saw dan komunitas shahabat yang mulia. Tulisan pertama mendalami episode penting sesudah Jihad Khandaq, yang langsung dirangkai dengan perdebatan masa kini tentang melumernya format negara-bangsa, seiring kebutuhan akan negara global (super-state) Islam di masa depan. Tulisan kedua menegaskan perspektif al-Qur'an tentang hakikat negara. Artikel terakhir merinci misi peradaban negara Madinah. Selamat menikmati.
 
Hanya sekitar 20 hari yang tersedia bagi negara Madinah untuk menyiapkan diri menghadapi rencana serangan akbar itu. Tampaknya rencana disusun sangat rapi sehingga baru dapat diakses oleh intelijen Madinah 20 hari sebelum hari H. 

Ada masalah yang sangat rumit dalam perang akbar kali ini. Situasinya sangat berbeda dengan dua perang besar sebelumnya, Badar (tahun kedua hijrah), dan Uhud (tahun ketiga hijrah). Secara kuantitas jumlah pasukan musyrikin jauh lebih besar dari sebelumnya. Dalam perang Badar jumlah mereka sekitar 1000 orang melawan kaum Muslimin yang hanya berjumlah 314 orang, sementara dalam perang Uhud jumlah mereka sekitar 3000 orang melawan kaum Muslimin yang berjumlah sekitar 1000 orang. Tapi kali ini, jumlah mereka melambung menjadi 10.000 orang, sementara kaum Muslimin hanya sekitar 3000 orang. 

Di samping kekuatan kuantitatif itu, komposisi pasukan musyrikin kali ini lebih variatif. Sekitar 4000 orang diantara mereka berasal dari musyrikin Quraisy Makkah, sisanya merupakan pasukan gabungan (pasgab) yang terdiri dari semua kabilah Arab yang bersekutu dengan Quraisy. Ini merupakan aliansi dan sekaligus mobilisasi militer terbesar yang pernah terjadi di jazirah Arab. Untuk ukuran zamannya, pasukan gabungan ini layak disebut sebagai pasukan multi-nasional. 

Masih ada masalah yang jauh lebih musykil dari itu. Yaitu pengkhianatan kabilah-kabilah Yahudi yang justru berada di Madinah. Ada Bani Nadhir, Bani al-Mushthaliq dan Bani Qainuqo'. Situasi menjadi lebih tegang karena pengkhianatan ini baru diketahui saat-saat menjelang perang. Ketegangan itulah yang terlukis dengan sangat indah dalam surat al-Ahzab: 

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu menyangka kepada Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat." (al-Ahzab: 10-11) 

Dalam musyawarah darurat yang diadakan Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wa salam bersama para sahabatnya, pilihan strategi perlawanan jatuh kepada usul Salman al-Farisi untuk membuat parit (khandaq) di seluruh pintu masuk menuju Madinah. Jumlah pasukan gabungan ini memang terlalu besar untuk dihadapi secara frontal. Yang paling efektif adalah bertahan dalam kota, sambil merintangi jalan masuk mereka ke dalam kota dengan parit. Selain itu, strategi parit ini akan menjadi kejutan besar bagi bangsa Arab yang belum pernah mengenalnya dalam sejarah peperangan mereka. 

Tapi strategi parit yang kemudian menjadi nama perang ini, perang Khandaq, jelas membutuhkan kerja ekstra keras. Dan setiap kerja keras selalu membutuhkan tekad baja. Bekerja keras di tengah ketegangan dan keterdesakan adalah suasana jiwa yang mewarnai Madinah menjelang serangan akbar pasukan gabungan musyrikin Makkah. 

Berhari-hari kaum Muslimin seluruh tenaga mereka untuk menggali parit. Dan itu terjadi di musim dingin dan paceklik. Tapi sejarah selalu diukir dalam detik-detik seperti ini. al-Bara Bin 'Azib meriwayatkan: 

"Menjelang perang Khandaq, kami menggali parit dan kami menemukan beberapa batu besar yang tak dapat kami pecahkan dengan kampak. Lalu kami melaporkan itu kepada Rasulullah Saw. Lalu beliau mengambil kampak dan mendekati batu besar itu, kemudian menyebut nama Allah lalu memukul dan memecahkannya, setelah itu beliau mengatakan: "Allah Maha Besar, sungguh aku telah diberikan kunci-kunci gerbang negeri Syam, demi Allah sungguh aku melihat istana-istana merahnya sekarang." Kemudian beliau memukul dan memecahkan batu besar lagi untuk kedua kalinya, dan berkata: "Allah Maha Besar, sungguh aku telah diberikan Persi, demi Allah, sungguh aku melihat istana putih al-Madain sekarang." Kemudian beliau menyebut nama Allah lalu memecahkan batu besar lainnya, dan berkata: "Allah Maha Besar, sungguh aku telah diberikan kunci-kunci Yaman, demi Allah, sungguh aku melihat gerbang Shan'a dari tempatku ini." 

Demikianlah di tengah ketegangan, keterdesakan, semangat dan kerja keras, Allah menurunkan janji-janji-Nya kepada kaum Muslimin; janji-janji pembebasan dan kemenangan atas negeri Syam (wilayah Romawi), Persi dan Yaman, yang merupakan pusat kekuatan peradaban dunia. Jadi apa yang mereka lakukan sekarang adalah satu tahap dari sebuah ajang menuju penguasaan atas dunia, dan di sana kelak mereka akan menegakkan sebuah peradaban baru: Islam. 

Perang Khandaq adalah perang besar terakhir yang dilakukan Rasulullah Saw di Madinah. Ini juga berarti bahwa perang ini sekaligus menutup tahap defensif di Madinah. Semua perang yang dilakukan beliau sebelum ini bersifat defensif, di mana serangan-serangan militer ditujukan ke Madinah. Dan perang Khandaq adalah yang terbesar. Maka berdasarkan kalkulasi militer itu, Rasulullah Saw kemudian bersabda seusai perang Khandaq: "Sekarang kita yang akan menyerang mereka, dan mereka takkan pernah menyerang kita lagi."
 
Babak baru dalam sejarah perjuangan kaum Muslimin telah dimulai. Ekspansi. Dan mereka pun bergerak menuju peradaban, di mana Islam datang membuka gerbang-gerbang peradaban dunia, Persi dan Romawi, dan mengangkat bendera Allah di seluruh sudut bumi. Inilah awal dari proses globalisasi Islam. 

Begitulah secara berturut-turut kejadian-kejadian itu berlangsung. Pada tahun keenam hijrah Allah menurunkan syariat haji yang mengharuskan kaum Muslimin mendatangi Makkah. Walau kemudian gagal berhaji, tapi ada perjanjian Hudaibiyah. Pada tahun yang sama kaum Muslimin membersihkan Madinah dari para pengkhianat dari kabilah-kabilah Yahudi.Tahun ketujuh terjadi perang Mu'tah antara kaum Muslimin yang berjumlah 3000 orang dengan pasukan Heraklius yang berjumlah 200.000 orang. Tahun kedelapan kaum Muslimin membebaskan Makkah. Tahun kesembilan kaum Muslimin membersihkan kabilah-kabilah Arab yang masih musyrik di seluruh jazirah Arab. Dan tahun kesepuluh, Rasulullah saw melakukan haji wada' (perpisahan), dan kemudian membentuk sebuah pasukan dibawah pimpinan Usamah Bin Zaid, untuk membebaskan Syam. 

Peradaban Yang Membebaskan
Setelah jazirah sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Islam, dan sebelum pasukan Usamah Bin Zaid melaksanakan misinya, Rasulullah saw wafat. Tapi pesan itu telah sampai; sebuah masyarakat baru, dengan basis wilayah teritorial di jazirah Arab, telah siap melaksanan misi besar menegakkan peradaban yang akan menjadi soko guru bagi dunia.
Empat khalifah rasyidin yang datang kemudian hanya berkuasa sekitar 30 tahun. Tapi dalam masa yang singkat itu, khususnya pada masa Abu Bakar, Umar dan separuh masa Utsman, kaum Muslimin telah menundukkan Persi dan sebagian wilayah Asia Tengah, juga telah membebaskan seluruh negeri Syam yang merupakan gerbang ke Eropa, juga telah membebaskan Mesir yang merupakan gerbang menuju Afrika. 

Hanya dalam waktu sekita 50 tahun, Islam telah menancapkan benderanya di seluruh gerbang menuju tiga benua tua: Asia, Eropa dan Afrika. Jika seluruh wilayah yang dikuasai Umar Bin Khattab, misalnya kita jadikan contoh, kita konversi ke negara-negara sekarang ini, maka semua ada 18 negara. 

Wilayah Islam itu semakin meluas di masa pemerintahan Bani Umayyah selama hampir satu abad setelah masa Khulafa-ur-Rasyidin. Bani Abbasiyah datang setelah itu dan terus melakukan ekspansi hingga abad keempat hijrah. Dan dalam rentang waktu itu Islam telah menguasai lebih dari separuh wilayah bumi yang terhuni umat manusia. 

Islam telah menyebarkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, bahkan amil-amil zakat di masa Umar Bin Abdul Aziz berkeliling di benua Afrika mencari fakir miskin yang berhak menerima zakat, namun tidak menemukannya. Islam telah telah menegakkan keadilan bagi seluruh umat manusia, hingga rakyat jelata dari kalangan Qibthi di Mesir berani menuntut seorang gubernur sekaliber 'Amr Bin 'Ash ke khalifah Umar Bin Khattab. Islam juga telah menyebarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang kelak mengantar orang-orang menjadi lebih berbudaya. 

Walaupun pasukan Tartar dan perang Salib sempat mengoyak sebagian wilayah Islam, tapi peradaban Islam terus jaya hingga satu milenium. 

Negara Peradaban atau Super-State
Kita dapat melukiskan masa kejayaan itu dalam lembar yang jauh lebih panjang. Tapi bukan itu yang ingin kita tegaskan di sini. Yang ingin kita tegaskan di sini adalah: bagaimana institusi negara, dalam konsep Islam, dijadikan sarana untuk menegakkan sebuah peradaban. Atau dengan kata lain, negara bukanlah akhir, tapi justru merupakan awal dari sebuah peradaban. 

Apabila kita ingin meringkas tahapan pertumbuhan Islam dalam sejarah, maka kita dapat meringkasnya dalam tiga kata: manusia, negara dan peradaban. Manusia adalah subjeknya, negara adalah institusinya, peradaban adalah karyanya. 

Dalam kerangka pemikiran seperti itu, bentuk negara memang menjadi sangat fleksibel. Walaupun para pemikir politik Islam mengakui bahwa khilafah khususnya yang berlaku pada masa Khulafa-ur-Rasyidin adalah bentuk negara yang terbaik, tapi mereka tidak menafikan bentuk-bentuk lain yang pernah ada. Misalnya kerajaan. Sebab yang jauh lebih penting bagi mereka adalah fungsi negara itu sendiri sebagai alat untuk menerapkan syariat Islam. Selama fungsi itu masih berjalan, mereka tetap menerima semua bentuk negara. 

Namun demikian, jika misi Islam adalah menegakkan peradaban yang menjadi soko guru penebar rahmat bagi dunia, maka kita memang tidak dapat membayangkan kalau misi itu dapat diemban oleh sebuah negara kecil. Sebuah negara yang diamanatkan mengemban misi sebesar itu haruslah mempunyai keunggulan geopolitik dan geostrategi yang baik. Dan inilah salah satu hikmah dari pemilihan jazirah Arab sebagai tempat turunnya wahyu terakhir, ketika Allah mengatakan: "Allah lebih tahu tentang dimanakah Ia menurunkan risalah-Nya." (al-An'am: 124). 

Negara Islam adalah negara risalah yang hanya berhenti bertumbuh ketika risalah itu telah menjadi kenyataan hidup. Sasarannya adalah seluruh ummat manusia yang mendiami bumi, karena itu wilayahnya selalu meluas mengikuti jejak kaki umat manusia. Karena pertumbuhan yang dinamis itu, maka bentuknya harus bersifat fleksibel agar dapat mengakomodasi tuntutan pertumbuhan tersebut. 

Yang permanen dalam konsep politik Islam adalah fungsi negara sebagai instrumen penegak syariat Allah. Adapun bentuk negara, mulai dari khilafah, dinasti hingga negara bangsa, dan sistem pemerintahannya, mulai dari parlementer, presidensial hingga monarki, semua tetap dapat diakomodasi selama negara itu menjalankan fungsi dasarnya. 

Wacana Negara Masa Depan
Tema ini menarik untuk dikaji terutama karena era negara-negara, yang dulu dipelopori oleh Prancis dan Amerika, tampaknya mulai memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir. Pada awal dekade 90-an John Naisbitt meramalkan bakal munculnya negara-negara kecil berbasis etnis atau agama atau ekonomi yang efektif. Nasionalisme yang menjadi ruh dari konsep negara-bangsa, kata Mark Jurgensmeyer, mulai memudar dan nasionalisme religius muncul sebagai alternatif baru di negara-negara Islam. 

Setelah berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, berbagai negara baru muncul ke peta dunia. Dan pola konflik di seluruh dunia berubah secara signifikan; kecuali untuk kasus perang Teluk, hampir tidak ada lagi perang antar negara sepanjang dekade 90-an. Jadi sebagian besar konflik terjadi "dalam negara", dan disebabkan oleh dua hal: faktor identitas (etnis atau agama) dan faktor distribusi (keadilan ekonomi dan politik). Dan inilah ujian paling berat bagi konsep negara-bangsa, yang mencoba menyatukan berbagai etnis dalam kesamaan nasib sejarah dan cita-cita bersama. 

Sementara itu, persaingan ekonomi dan politik di tataran global telah mendorong lahirnya berbagai aliansi strategis. Kawasan Amerika Utara, Tengah dan Selatan menyatu dalam NAFTA, negara-negara Asia Pasifik menyatu dalam APEC, sementara rumpun negara-negara Eropa menyatu dalam Uni Eropa. Aliansi-aliansi itu sebenarnya dapat digategorikan sebagai upaya pemekaran struktural bagi negara yang bersifat tidak langsung, tapi cukup efektif melakukan fungsi dari sebuah negara besar. Karena itu, aliansi Uni Eropa yang bahkan menyatukan mata uang, sebenarnyadalam konteks pemekaran negara bisa dianggap sebagai sebuah bentuk super state

Negara kecil atau negara besar? Negara etnis atau negara super? Masalahnya ternyata bukan pada bentuk. Masalahnya terletak pada konsep kekuasaan; apakah misi yang ingin Anda emban? Berapa besar kekuasaan yang Anda perlukan untuk itu? Misi bisa merujuk kepada ideologi atau kepentingan. Tapi konsep kekuasaan bermula dari sana: sebesar apa misi Anda, sebesar itulah kekuasaan yang Anda perlukan. Dalam konteks ini bentuk negara menjadi relatif, karena ia tergantung kepada konsep dasar tersebut. 

Masalah ini tentu saja belum selesai. Apa yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah membuka wacana pemikiran kita, kaum Muslimin, di saat mana bangsa kita sedang mencari jalan menuju masa depan, mencari bentuk yang dapat mewadahi proses pertumbuhan kita sebagai sebuah bangsa besar. Sementara konsep negara-bangsa sedang mengalami ujian berat, inilah saatnya bagi kaum Muslimin untuk mengajukan konsep kenegaraan mereka.

sumber : Majalah Suara Hidayatullah : Juli 2001

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kunjungan

Rating for adieth12.blogspot.com
Recommended Post Slide Out For Blogger